Get Your Free Money Making Website! Click Now!


Hadits 19: Mintalah Pertolongan Kepada Allah
عَنْ أَبِي عَبَّاسٍ عَبْدِ اللهِ بنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قَالَ: كُنْتُ خَلْفَ النبي صلى الله عليه وسلم يَومَاً فَقَالَ: (يَا غُلاَمُ إِنّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ : احْفَظِ اللهَ يَحفَظك، احْفَظِ اللهَ تَجِدهُ تُجَاهَكَ، إِذَاَ سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَاَ اسْتَعَنتَ فَاسْتَعِن بِاللهِ، وَاعْلَم أَنَّ الأُمّة لو اجْتَمَعَت عَلَى أن يَنفَعُوكَ بِشيءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلا بِشيءٍ قَد كَتَبَهُ اللهُ لَك، وإِن اِجْتَمَعوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشيءٍ لَمْ يَضروك إلا بشيءٍ قَد كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفعَت الأَقْلامُ، وَجَفّتِ الصُّحُفُ) رواه الترمذي وقال: حديث حسن صحيح - وفي رواية - غير الترمذي: (اِحفظِ اللهَ تَجٍدْهُ أَمَامَكَ، تَعَرَّفْ إلى اللهِ في الرَّخاءِ يَعرِفْكَ في الشّدةِ، وَاعْلَم أن مَا أَخطأكَ لَمْ يَكُن لِيُصيبكَ، وَمَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُن لِيُخطِئكَ، وَاعْلَمْ أنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الفَرَجَ مَعَ الكَربِ، وَأَنَّ مَعَ العُسرِ يُسراً)
Dari Abu 'Abbas Abdullah bin 'Abbas Radhiallahu 'Anhuma, beliau berkata: Suatu hari saya dibelakang Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, Beliau bersabda: "Wahai ghulam, saya akan mengajarkanmu beberapa perkataan: jagalah Allah niscaya Dia akan menjagamu, jagalah Allah niscaya kamu mendapatkan Dia bersamamu, jika kamu meminta memintalah kepada Allah, jika kamu menghendaki pertolongan mintalah pertolongan Allah, ketahuilah seandainya segolongan umat berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu dengan sesuatu, niscaya mereka tidak bisa memberikan manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu, dan seandainya mereka berkumpul untuk memudharatkanmu dengan sesuatu, niscaya mereka tidak akan mereka tidak mampu memudharatkanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena-pena telah diangkat, dan lembaran-lembaran telah mengering tintanya. (HR. At Tirmidzi, katanya: hadits hasan shahih)
Pada riwayat selain At Tirmidzi: Jagalah Allah niscaya kamu akan menemukannya dihadapanmu, kenalilah Allah dalam keadaan kesenangan, niscaya Dia akan mengenalimu ketika kamu sulit, ketahuilah segala kesalahanmu belum tentu akan menjadi musibah bagimu, dan tidak pula musibah yang menimpamu disebabkan oleh kesalahanmu, ketahuilah pertolongan itu bersama kesabaran, kelapangan itu bersama ke sempitan, dan bersama kesulitan ada kemudahan.

Takhrij Hadits:
-Imam At Tirmidzi dalam Sunannya No. 2516
-Imam Alauddin Al Muttaqi Al Hindi dalam Kanzul 'Ummal No. 630
-Imam Ahmad dalam Musnadnya No. 2669
-Imam Abu Ya'la dalam Musnadnya No. 2556
-Imam Ibnu Abi 'Ashim dalam As Sunnah No. 316
-Imam Ibnu As Sunni dalam 'Amal Al Yaum wal Lailah No. 425
-Imam Ath Thabarani dalam Al Mu'jam Al Kabir No. 12988
-Imam Al Baihaqi dalam Syu'abul Iman No. 195
-dll
Syaikh Syu'aib Al Arnauth mengatakan: isnadnya qawwiy (kuat). (Tahqiq Musnad Ahmad No. 2669) . Syaikh Al Albani mengatakan: shahih. (Shahihul Jami' No. 7957) . Imam At Tirmidzi mengatakan: hasan shahih. (Sunan At Tirmidzi No. 2516)
Hadits yang kedua diriwayatkan oleh:
-Imam Al Baihaqi dalam Syu'abul Iman No. 10001
-Imam Ahmad dalam Musnadnya No. 2666
-Imam Al Qudha'i dalam Musnad Asy Syihab No. 745
-Imam Abdu bin Humaid dalam Musnadnya No. 636
-Imam Abu Nu'aim dalam Ma'rifatush Shahabah No. 3585
Syaikh Al Albani mengatakan: shahih. (Zhilal Al Jannah No. 315)

Kandungan hadits secara global
Hadits ini memuat banyak pelajaran, di antaranya:
1. Budaya saling menasihati dan memberi pelajaran yang baik, walau dengan anak kecil. Al Ghulam adalah anak kecil laki-laki. Nasihat boleh dilakukan dengan atau tanpa diminta, dan boleh pula lebih dari satu muatan nasihat.
2. Perintah untuk menjaga Allah Ta'ala yaitu menjaga hak-hak agamaNya kapan pun dan di mana pun, niscaya Allah Ta'ala akan menjaga kita; baik diri, keluarga, dunia dan akhirat, dan juga Dia akan bersama kita, kapan pun dan di mana pun juga.
Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Aali Asy Syaikh berkata:
المراد منه : أن يحفظه في حقوقه - جل وعلا-.
Maksudnya adalah menjagaNya pada hak-hakNya - Jalla wa 'Ala. (Syarh Al Arbain An Wawiyah, Hal. 155)
Hal sama dengan firman Allah 'Azza wa Jalla:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS. Muhammad (47 ): 7)
Jadi, tidaklah Allah Ta'ala memerintahkan sesuatu kepada hamba-hambaNya melainkan Allah Ta'ala akan memberikan balasan yang baik bagi mereka.
3. Perintah untuk meminta (berdoa) hanya kepada Allah 'Azza wa Jalla, dan meminta pertolongan juga kepadaNya; yaitu meminta pada hal yang menjadi hak Allah Ta'ala semata untuk memberi, seperti meminta hidayah, rezeki, keselamatan hidup, dan semisal ini.
Ada pun meminta pertolongan kepada makhluk dalam hal-hal yang manusiawi dan teknis maka itu tidak apa-apa, dan sama sekali tidak bertentangan dengan prinsip wa iyya kanasta'in (dan hanya kepadaMu kami minta pertolongan).. Seperti meminta bantuan dokter untuk mengobati penyakit, meminta seseorang untuk mengambilkan sesuatu, meminta guru untuk mengajarkan suatu ilmu, meminta bantuan montir untuk mereparsi kendaraan, dan semisal ini. Ini semua dibenarkan oleh syara', adat, dan akal manusia, walau pada hakikatnya pertolongan hakiki hanyalah dari Allah Ta'ala datangnya. Oleh karena itu, ketika selesai pendapatkan bantuan atau pertolongan, hendaknya tidak lupa mengucapkan Alhamdulillah... sebagai bentuk pengakuan pertolongan dariNya, yang Allah Ta'ala lakukan melalui tangan-tangan hambaNya pula.
4. Ketetapan Allah 'Azza wa Jalla bagi hambaNya, baik yang susah atau senang, nikmat dan bencana, adalah hal yang pasti dan tidak berubah kecuali dengan kehendakNya pula. Walau manusia bersekongkol untuk merubah ketetapan ini, maka mereka tidak akan mampu merubah ketetapanNya.
Allah Ta'ala berfirman:
يَمْحُوا اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ
Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh). (QS. Ar Ra'du (13 ) : 39)
Ini adalah kunci kebahagiaan kehidupan di dunia. Kesedihan mampu dihilangkan, kegundahan bisa dihindarkan, dan rasa gelisah dapat disingkirkan, jika seorang hamba meyakini dengan keyakinan yang mendalam (imanul 'amiq) bahwa Allah Ta'ala telah menentukan baginya hak- haknya di dunia yang tidak akan berpindah tempat, tidak pula terampas oleh orang lain.
Ada kesalahan seseorang yang tidak membawa musibah (mudharat) baginya, yaitu Allah Ta'ala dan manusia memaafkannya, yakni pada kesalahan-kesalahan yang tidak disengaja, tidak tahu, dan terpaksa. Juga, kesalahan yang dilakukan oleh orang gila, anak- anak, dan orang tidur.
Dari Ali Radhiallahu 'Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:
رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ عَنْ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنْ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ وَعَنْ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ
Catatan pena diangkat dari tiga manusia: 1 . Orang tertidur sampai dia bangun, 2 . Anak-anak sampai dia mimpi basah (baligh), dan 3. Orang gila sampai dia berakal. (HR. Abu Daud No. 4403 . Syaikh Al Albani menshahihkannya dalam berbagai kitabnya. Shahih wa dhaif Sunan Abi Daud No. 4403 , Tahqiq Misykah Al Mashabih No. 3287)
Selain itu, dari Abu Dzar Al Ghifari Radhiallahu 'Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam berdabda:
إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ
Sesungguhnya Allah membiarkan dari umatku: kesalahan (tidak sengaja), lupa, dan apa-apa yang dia terpaksa melakukannya. (HR. Ibnu Majah No. 2043 , juga No. 2045 dari Ibnu Abbas dengan lafaz: sesungguhnya Allah meletakkan dari umatku..., Ibnu Hibban No. 70219 , Al Baihaqi dalam Ma'rifatus Sunan wal Aatsar No. 4719 dari Ibnu Ababs, Ath Thahawi dalam Syarh Ma'aanil Aatsar No. 4292 dari Ibnu Abbas, Ath Thabarani dalam Musnad Asy Syamiyin No. 1090, dari Tsauban, dll)
Syaikh Al Albani menshahihkannya. (Al Misykat No 6284 , Al Irwa' No. 82, dll) Syaikh Bari' 'Irfan Taufiq mengatakan: shahih. (Shahih Kunuz As Sunnah An Nabawiyah, Bab Fadhail Al Ummah Al Islamiyah, No. 9)
6. Ada juga musibah yang menimpa kita karena bukan kesalahan kita. Hal ini biasanya terjadi pada sikap kita sendiri yang mendiamkan kesalahan tersebut, tanpa upaya amar ma'ruf dan nahi munkar, akhirnya musibah yang datang bukan hanya menimpa orang yang melakukan kesalahan, tapi merata ke semuanya.
Allah Jalla wa 'Ala berfirman:
اتَّقُوا فِتْنَةً لا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً
Takutlah kamu terhadap fitnah yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim di antara kalian secara khusus. (QS. Al Anfal (8 ): 25)
Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan:
يحذر تعالى عباده المؤمنين { فِتْنَةً } أي: اختبارًا ومحنة، يعم بها المسيء وغيره، لا يخص بها أهل المعاصي ولا من باشر الذنب، بل يعمهما، حيث لم تدفع وترفع.
Allah Ta'ala memberikan peringatan kepada hamba- hambaNya kaum beriman dengan fitnah, yaitu ujian dan cobaan yang ditimpakan secara umum baik kepada orang buruk dan selainnya, dan tidak dikhususkan kepada pelaku maksiat dan manusia yang berdosa banyak, bahkan itu secara umum untuk keduanya, ketika maksiat tidak dicegah dan dihapuskan. (Ibid, 4 /387)
Berkata Ibnu Abbas Radhiallahu 'Anhuma:
أمر الله عز وجل المؤمنين أن لا يقروا المنكر بين أظهرهم فيعمهم الله بعذاب يصيب الظالم وغير الظالم
Allah 'Azza wa Jalla memerintahkan kepada kaum mukminin agar tidak membiarkan kemungkaran yang nampak di depan mereka, maka (jika mereka membiarkan) Allah akan mengazab mereka secara merata dengan azab yang menimpa orang zalim dan yang bukan zalim. (Imam Al Baghawi, Ma'alimut Tanzil, 3 /346 . juga Imam Ibnu Jarir, Jami'ul Bayan, 13 /474)
Dalam hadits juga, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:
إِنَّ اللهَ لَا يُعَذِّبُ الْعَامَّةَ بِعَمَلِ الْخَاصَّةِ، حَتَّى يَرَوْا الْمُنْكَرَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْهِمْ ، وَهُمْ قَادِرُونَ عَلَى أَنْ يُنْكِرُوهُ فَلَا يُنْكِرُوهُ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ، عَذَّبَ اللهُ الْخَاصَّةَ وَالْعَامَّةَ
Sesungguhnya Allah tidak akan mengazab secara umum dengan sebab perbuatan yang khusus, sampai mereka melihat kemungkaran di hadapan mereka, padahal mereka mampu untuk mencegahnya namun mereka tidak melakukannya, jika merekja melakukan itu, maka Allah akan mengazab secara khusus dan merata (umum). (HR. Ahmad No. 17756 , Ibnu Abi 'Ashim dalam Al Ahadits Al Matsani No. 2431 , Syaikh Syu'aib Al Arnauth mengatakan: hasan lighairihi. Lihat Tahqiq Musnad Ahmad No. 17756)
7. Hadits ini juga menunjukkan bahwa Pertolongan Allah Ta'ala senantiasa menyertai orang sabar, begitu pula kemudahan dan kelapangan dariNya akan diberikan kepada orang yang sabar ketika mereka mengalami kesempitan dan kesulitan.
Hal ini sesuai dengan ayat:
كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ
"Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al Baqarah (2 ): 249)
Ayat lain:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
"Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al Baqarah (2 ): 153)

Makna Kata dan Kalimat
عَنْ أَبِي عَبَّاسٍ عَبْدِ اللهِ بنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قَالَ: dari Abu 'Abbas Abdullah bin Abbas Radhiallahu 'Anhuma, dia berkata:
Abu 'Abbas (bapaknya Abbas) adalah kun-yahnya, nama aslinya Abdullah, putera Abbas bin Abdul Muthalib. Keduanya adalah sahabat sekaligus famili Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Abbas bin Abdul Muthalib adalah adik dari ayah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, Abdullah. Maka, 'Abbas bin Abdul Muthalib adalah paman nabi, sedangkan Abdullah bin 'Abbas adalah sepupu nabi. Jadi, ayah beliau bernama 'Abbas, anaknya juga bernama 'Abbas.
Imam Ibnul Atsir Rahimahullah mengatakan:
"Abdullah bin 'Abbas bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf, Abul Abbas Al Qursyi Al Hasyimi. Dia adalah anak dari paman Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, diberikan kun-yah (gelar panggilan) dengan nama anaknya Al 'Abbas, sebagai anaknya yang paling besar, dan ibunya bernama Lubabah Al Kubra binti Al Harits bin Khuznul Al Hilaliyah.
Abdullah bin Abbas juga dinamakan Al Bahr (samudera) karena ilmunya yang luas, dia juga dinamakan Hibrul Ummah (tintanya umat). Dia dilahirkan di celah bukit di Mekkah tiga tahun sebelum hijrah, Beliau di- tahnik [1] oleh Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. (Usadul Ghabah, Hal. 630)
Imam Adz Dzahabi Rahimahullah menyebutnya dengan istilah Al Bahr (Samudera), Hibrul Ummah (tintanya umat), Faqihul 'Ashr (ahli fiqih zamannya), dan Imamut Tafsir (imam ahli tafsir).
Beliau mengambalih hadits secara baik dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, juga meriwayatkan dari Umar, Ali, Muadz, ayahnya, Abdurrahman bin Auf, Abu Sufyan Sakhr bin Harb, Abu Dzar, Ubay bin Ka'ab, Zaid bin Tsabit, dan lainnya. Beliau membacakan Al Quran di hadapan Ubay dan Zaid (karena Ubay dan Zaid di antara sahabat nabi yang menulis wahyu Allah Ta'ala, pen).
Sederetan nama beken dari kalangan tabi'in senior telah menjadi muridnya, seperti Urwah bin Zubeir, Said bin Jubeir, Ikrimah, Abu Asy Sya'tsa Jabir, Mujahid bin Jabr, Al Qasim bin Muhammad, Abu Raja' Al 'Atharidi, Abul 'Aliyah, 'Atha bin Yasar, 'Atha bin Abi Rabah, Asy Sya'bi, Al Hasan Al Bashri, Ibnu Sirin, Muhammad bin Ka'ab Al Qurzhi, Syahr bin Hausyab, Ibnu Abi Malikah, Amru bin Dinar, Dhahak bin Muzahim, Ismail As Suddi, dan lainnya.
Beliau memiliki beberapa anak, paling tua adalah Al Abbas, paling kecil Ali Abu Al Khulafa'. D antara mereka ada Al Fadhl, Muhammad, Ubaidullah, Lubabah, dan Asma'.
Ketika Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam wafat, usia beliau adalah 10 tahun, ada juga riwayat yang menyebut 13 tahun, ada juga yang menyebut 15 tahun. (Siyar A'lam An Nubala, 3 / 331-335)
Menurut Ali bin Al Madini, Ibnu Abbas wafat pada tahu 68 atau 67 Hijriyah. Sementara Al Waqidi, Al Haitsam, dan Abu Nu'aim mengatakan: tahun 68 . Disebutkan bahwa Beliau hidup selama 71 tahun. (Ibid, 3 /359)
Abdullah bin 'Abbas Radhiallahu 'Anhuma memiliki banyak keutamaan dan pujian untuknya. Diantaranya sebagai berikut:
Beliau mengatakan:
دَعَا لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُؤْتِيَنِي اللَّهُ الْحِكْمَةَ مَرَّتَيْنِ
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mendoakan untukku sebanyak dua kali, agar Allah memberikanku hikmah (ilmu). (HR. At Tirmidzi No. 3823 , katanya: hasan gharib. Syaikh Al Albani menshahihkannya. Lihat Raudh An Nadhir No. 395 , Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 3823)
Ibnu 'Abbas mengatakan, ketika Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam berada di rumah Maimunah, dia membawa air wudhu buat nabi, lalu berkata kepada nabi: "Abdullah bin Abbas telah menyediakan air wudhu untukmu." Lalu Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:
اللهم فقهه في الدين و علمه التأويل
Ya Allah, fahamkanlah agama baginya, dan ajarkanlah ia ta'wil. (HR. Imam Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 6280 , katanya: shahih, dan Bukhari- Muslim tidak meriwayatkannya. Imam Adz Dzahabi menyepakati keshahihannya. Ath Thabarani dalam Al Mu'jam Al Kabir No. 10587 , Ath Thabari dalam Tahdzibul Atsar No. 2159)
Sementara dalam riwayat Imam At Tirmidzi yang lain berbunyi: 'Allimhu Al Hikmah - Ajarkanlah dia Al Hikmah. (No. 3824, katanya: hasan shahih)
Ada pun dalam riwayat Imam Al Bukhari, hanya: "Allahumma faqqihhu fiddin - Ya Allah, fahamkanlah agama baginya. (HR. Bukhari No. 143), juga dalam Kitab Al Fadhail, berbunyi: Allahumma 'allimhu Al kitab - Ya Allah ajarkanlah dia Al Kitab (Al Quran).
Selanjutnya:
كُنْتُ خَلْفَ النبي صلى الله عليه وسلم يَومَاً: Suatu hari saya dibelakang Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam
Yakni bersama dalam satu kendaraan yang sama, Ibnu 'Abbas diboncengi Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, atau dia berjalan di belakang Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin Rahimahullah menjelaskan:
قوله "كُنْتُ خَلْفَ النبي" يحتمل أنه راكب معه ويحتمل أنه يمشي خلفه،وأياً كان فالمهم أنه أوصاه بهذه الوصايا العظيمة.
Ucapannya "Saya berada di belakang nabi" bisa bermakna dia berkendara bersama nabi, dan juga bermakna dia berjalan di belakangnya. Apa pun keadaanya yang terpenting adalah bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam memberikan wasiat kepadanya dengan wasiat agung ini. (Syaikh ibnul 'Utsaimin, Syarhul Arbain, Hal. 188. Mawqi' Ruh Al Islam)
Peristiwa ini menunjukkan kedekatan Ibnu 'Abbas Radhiallahu Anhuma dengan Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, walau beliau masih sangat belia. Sekaligus menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam begitu dengan semua lapisan umur di masyarakatnya.
Syaikh 'Athiyah bin Muhammad Salim Rahimahullah mengatakan:
إن هذا الحديث العظيم، يبين مكانة ابن عباس رضي الله تعالى عنهما، وقد اختص بخصائص من بين أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم، ويطيل علماء الرجال والتراجم في ترجمة ابن عباس رضي الله عنهما، فقد حظي بدعوة المصطفى صلى الله عليه وسلم: ( اللهم! فقه في الدين، وعلمه التأويل )
Hadits yang mulia ini menjelaskan kedudukan Ibnu 'Abbas Radhiallahu 'Anhuma, Beliau telah dispesialkan dengan berbagai keistimewaan di antara sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, para ulama biografi telah banyak menceritakan biografi Ibnu abbas Radhiallahu 'Anhuma, dia telah mendapatkan kehormatan dengan doa Al Mushthafa Shallallahu 'Alaihi wa Sallam: "Ya Allah, fahamkanlah ilmu agama dan ajarkan dia ta'wil." (Syaikh 'Athiyah Salim, Syarhul Arbain An Nawawiyah, Syarah No. 19)

فَقَالَ: (يَا غُلاَمُ: lalu beliau bersabda: " Wahai ghulam (anak)...
Panggilan "ghulam" menunjukkan bahwa Ibnu 'Abbas saat itu masah kecil. Telah disebutkan sebelumnya bahwa ketika Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam wafat, Ibnu 'Abbas masih berusia 10 tahun, ada yang menyebut 13 tahun, dan ada yang menyebut 15 tahun. Usia berapa pun, tetap menunjukkan bahwa memang Rasulullah Shallallahu 'Alaihiwa Sallam memberikan wasiat ini kepada Ibnu 'Abbas ketika masih anak-anak.
Oleh karenanya, Syaikh Ibnul 'Utsaimin mengatakan:
" يَا غُلامُ" لأن ابن عباس رضي الله عنهما كان صغيراً، فإن النبي صلى الله عليه وسلم توفي وابن عباس قد ناهز الاحتلام يعني من الخامسة عشر إلى السادسة عشر أو أقل.
"Wahai anak" karena Ibnu Abbas Radhiallahu 'Anhuma saat itu masih kecil, dan ketika Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam wafat, Ibnu 'Abbas mendekati usia baligh yakni usia 15 tahun sampai 16 tahun, atau lebih sedikit. (Syaikh Ibnul 'Utsaimin, Syarhul Arbain An Nawawiyah, Hal. 188)
Serdangkan Syaikh Ismail Al Anshari menyebut "ghulam" itu anak-anak berusia sekitar 9 menuju 10 tahun. (At Tuhfah Ar Rabbaniyah, Syarah No. 19)
إِنّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: sungguh saya akan mengajarkan kamu beberapa perkataan
Yakni Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menyampaikan beberapa pengajaran, nasihat, dan wasiat kepada Ibnu 'Abbas Radhiallahu 'Anhuma secara khusus. Tetapi, 'ibrah dalam pengajaran tersebut juga berlaku dan bermanfaat untuk selain dirinya, bahkan berlaku bagi semua umat manusia.
Syaikh Ismail Al Anshari mengatakan: "yanfa'ukallah biha - dengan nasihat itu Allah memberikan manfaat buatmu." (Ibid)
Kalimat yang digunakan Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam adalah kalimat pengajaran sebagaimana guru kepada murid dan orang terhadap anak. Bukan kalimat perintah sebagaimana atasan kepada bawahan. Beliau tidak mengatakan: "Saya perintahkan kamu untuk melakukan ini dan itu..."
Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Asy Syaikh mengatakan:
وهذا اللفظ فيه تودد المعلم والأب والكبير إلى الصغار ، وإلى من يريد أن يوجه بالألفاظ الحسنة ، فهو استعمل - عليه الصلاة والسلام- لفظ التعليم : إني أعلمك كلمات وهي أوامر ، فلم يقل له -عليه الصلاة والسلام- : إني آمرك بكذا وكذا، وإنما ذكر لفظ التعليم ؛ لأنه من المعلوم أن العاقل يحب أن يستفيد علما.
Lafaz ini mengandung kasih sayang seorang pengajar, ayah, dan orang tua kepada orang kecil, dan kepada orang yang menghendaki perkataan yang baik. Beliau - 'Alaihis Shalatu was Salam- menggunakan lafaz pengajaran, saya akan mengajarkan kepadamu, yaitu perintah-perintah. Beliau - 'Alaihis Shalatu was Salam- tidak berkata kepadanya: saya memerintahkan kamu begini dan begitu. Sesungguhnya dipakainya metode lafaz pengajaran adalah karena telah diketahui bahwa orang yang berakal suka memanfaatkan pengetahuan. (Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Asy Syaikh, Syarhul Arbain An Nawawiyah, Hal. 154)
Selanjutnya:
احْفَظِ اللهَ يَحفَظك: jagalah Allah niscaya Dia akan menjagamu
Yakni jagalah syariatNya dengan menjalankan perintahNya dan meninggalkan laranganNya, semuanya. Menjaga Allah Ta'ala bukan bermakna menjaga zatNya, sebab Dia qiyamuhu binafsihi dan Maha Kuat dan Perkasa tidak membutuhkan penjagaan siapa pun.
Jika hal itu dilakukan, Allah Ta'ala akan memberimu balasan dan ganjaran, berupa penjagaan terhadap diri, harta, keluarga, dan kehidupan kita.
Imam Ash Shan'ani Rahimahullah menjelaskan:
والمراد من قوله "احفظ الله" أي حدوده وعهوده وأوامره ونواهيه وحفظ ذلك هو الوقوف عند أوامره بالامتثال وعند نواهيه بالاجتناب وعند حدوده أن لا يتجاوزها ولا يتعدى ما أمر به إلى ما نهى عنه فيدخل في ذلك فعل الواجبات كلها وترك المنهيات كلها
Maksud dari sabdanya "jagalah Allah" yaitu menjaga hududNya (aturanNya), janjiNya, perintahNya, dan laranganNya, menjaganya itu dengan berhenti dihadapan segala perintahNya dengan melaksanakan, dan terhadap laranganNya dengan menjauhkannya, terhadap hudud-Nya dengan tidak melanggarnya dan tidak melakukan sesuatu yang diperintahkan untuk dicegah. Termasuk juga melakukan semua kewajiban dan meninggalkan semua larangan. (Subulus Salam, 4 /176 . Cet. 4 , 1960 M-1379H. Maktabah Mushtafa Al Baabi Al Halabi)
Syaikh Abdul Muhsin Al 'Abbad Al Badr Hafizhahullah mengatakan:
(احفظ الله يحفظك) أي: قم بما يجب عليك نحو ربك من كل ما هو مطلوب منك وجزاؤك على ذلك أن يحفظك الله.
(Jagalah Allah niscaya Dia akan menjagamu) yaitu tegakkanlah kewajibanmu kepada Rabbmu dari semua hal yang dituntut darimu, dan niscaya kamu akan diberikan balasan atas itu berupa penjagaan Allah kepadamu. (Syarh Sunan Abi Daud, 28 /259)
Syaikh Ibnul 'Utsaimin Rahimahullah menjelaskan lebih detil tentang "Allah akan menjagamu":
إذا احفظ الله يحفظك جملة تدل على أن الإنسان كلما حفظ دين الله حفظه الله ولكن حفظه في ماذا ؟ جـ: حفظه في بدنه وحفظه في ماله وأهله وفي دينه وهذا أهم الأشياء وهو أن يسلمك من الزيغ والضلال لأن الإنسان كلما اهتدى زاده الله هدى { والذين اهتدوا زادهم هدى وآتاهم تقواهم }
Jadi, "jagalah Allah niscaya Dia akan menjagamu" adalah kalimat yang menunjukkan bahwa manusia ketika menjaga agama Allah, maka Allah akan menjaganya, tetapi penjagaan dalam hal apa? Jawab: PenjagaanNya terhadap badannya, hartanya, keluarganya, dan agamanya, dan ini adalah hal yang paling urgen. Dan, Dia akan menyelamatkanmu dari penyimpanmgan dan kesesatan, karena manusia ketika menghendaki petunjuk maka Allah akan menambahkan petunjuk itu (Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketaqwaannya). (Syarh Riyadhush Shalihin, Hal. 70. Mawqi' Jami' Al Hadits An Nabawi)
Selanjutnya:
احْفَظِ اللهَ تَجِدهُ تُجَاهَكَ: jagalah Allah niscaya kamu mendapatkan Dia bersamamu
Ini adalah ma'iyatullah (kebersamaan Allah) dengan hambaNya secara khusus, yang terjadi karena sebab tertentu (muqayyad). Secara umum (muthlaq) Allah Ta'ala memang bersama semua hambaNya yakni memberikan pengawasan kepada mereka. Tetapi, ada beberapa golongan hamba yang Allah Ta'ala khususkan mendapatkan kebersamaan denganNya selain yang disebutkan dalam hadits ini; yang dengan itu Dia selalu menjaga dan melindungi hamba tersebut.
Siapakah mereka? Di antaranya:
1. Orang-orang sabar (Shabirin).
Secara khusus Allah 'Azza wa Jalla bersama orang-orang yang bersabar. FirmanNya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al Baqarah (2 ): 153)
2. Orang-orang yang berbuat baik (Muhsinin)
FirmanNya:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan- jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang- orang yang berbuat baik. (QS. Al 'Ankabut (29 ): 69)
3. Orang-orang bertaqwa (muttaqin)
وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ
Dan ketahuilah sesungguhnya Allah bersama orang-orang bertaqwa. (QS. Al Baqarah (2 ): 194 . At Taubah (9 ): 36 , 123)
Syaikh Abdul Muhsin Al 'Abbad menjelaskan:
قوله: (( احفظ الله تجده تجاهك )) تُجاهك بمعنى أمامك، كما في الرواية الأخرى: (( احفظ الله تجده أمامك ))، والمعنى: تجده يحوطُك ويرعاك في أمور دينك ودنياك.
Sabdanya: (Jagalah Allah niscaya kamu mendapatkan Dia bersamamu) tujaahaka maknanya di hadapanmu, sebagaimana riwayat lain: (jagalah Allah niscaya kamu mendapatkanNya di hadapanmu), maknanya kamu mendapatkannya menguasaimu dan menjagamu, di segala urusan agama dan duniamu. (Fathul Qawi Al Matin, Hal. 61)
Selanjutnya:
إِذَاَ سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ: jika kamu meminta mintalah kepada Allah
Yakni jika kamu berdoa, memohon, dan bermunajat, maka lakukanlah semuanya kepada Allah Ta'ala, karena Dialah yang Maha Kaya dan Maha Mendengar terhadap semua keinginan hamba-hambaNya.
Allah Ta'ala berfirman:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. Al Baqarah (2 ): 186)
Imam Ibnu Katsir menceritakan tentang sebab turunnya ayat ini:
قال ابن جُرَيج عن عطاء: أنه بلغه لما نزلت: { وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ } [غافر: 60] قال الناس: لو نعلم أي ساعة ندعو؟ فنزلت: { وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ }
Berkata Ibnu Juraij, dari 'Atha, bahwa dia menyampaikan ketika turun ayat: (berfirman Rabb kalian: "Berdoalah kepadaKu niscaya akan aku kabulkan untukmu" (QS. Ghafir: 60), manusia berkata: "Seandainya kami tahu waktu kapankah mesti kami berdoa?" Maka turunlah ayat: Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada- Ku.(Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al 'Azhim, Juz. 1 , Hal. 506. Daruth Thayyibah Lin Nasyr wat Tauzi')

Sukses dan Gagal: Antara U saha dan Doa
Sepanjang sejarah peradaban manusia, baik primitif atau modern, dalam zona kebaikan atau kejahatan, kesuksesan mereka masing-masing selalu ditentukan oleh sejauh mana usaha mereka untuk mencapai tujuannya. Tak ada kejayaan diberikan oleh orang yang berpangku tangan, tak ada kemenangan dianugerahkan oleh para penonton, tak ada kemuliaan dan kedudukan tinggi yang disematkan kepada orang malas, tetapi melainkan kepada orang yang hari-harinya diisi oleh usaha dan kerja keras.
Bagi seorang muslim, lihatlah di luar sana, sangat banyak manusia berusaha meraih impian mereka, dengan beragam usaha, bahkan tak peduli benar salah dan halal haram dari cara yang mereka tempuh. Diperburuk lagi, tidak sedikit dari tujuan-tujuan itu adalah tujuan yang dibenci agama dan manusia, serta ditolak oleh nurani. Hari- hari mereka, waktu dan terjaganya mata mereka, didedikasikan untuk tujuan dan impian tersebut, walau itu kejahatan. Ada pun anda, saat ini tengah mendambakan prestasi akademis; dambaan yang benar dan mulia. Maka, apa yang membuat anda kalah dibanding usaha mereka? Apa yang membuat anda diam padahal mereka bergerak, dan apa yang membuat anda tertunduk ketika mereka tegak? Padahal anda sedang memperjuangkan kemuliaan, yaitu ilmu, iman dan amal. Anda sedang memperjuangkan warisan kenabian, yaitu ilmu, iman dan amal. Dan, Anda sedang memperjuangkan syarat mutlak bagi kemakmuran dunia dan akhirat, yaitu ilmu, iman dan amal. Maka, berusahalah dan berjuanglah.
Kenapa Harus Ada Usaha?
1. Karena Berusaha untuk Sukses adalah Perintah agama.
Islam adalah agama yang memanggil umatnya untuk bergerak, tidak statis.
Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
Dan Katakanlah: "Bekerjalah kalian, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu..." (QS. AT Taubah (9 ): 105)
Ayat ini menggunakan kata kerja perintah (Fi'il Amr) yaitu I'maluu (bekerjalah kalian), dan hukum dasar dari perintah adalah menunjukkan wajib (Al Ashlu fil Amr lil Wujub). Maka, adalah suatu yang terlarang (haram) dalam agama bagi seorang muslim menyengaja atas dirinya untuk diam, tidak bergerak, dan menganggur dari perbuatan-perbuatan yang produktif dan positif! Anehnya, di saat saat yang sama dia masih merindukan kesuksesan hidup....
Imam Asy Syaukani Rahimahullah mengomentari ayat di atas sebagai berikut:
فيه تخويف وتهديد : أي إن عملكم لا يخفى على الله ، ولا على رسوله ولا على المؤمنين ، فسارعوا إلى أعمال الخير ، وأخلصوا أعمالكم لله عزّ وجلّ ، وفيه أيضاً ترغيب وتنشيط ، فإن من علم أن عمله لا يخفى سواء كان خيراً أو شرّاً رغب إلى أعمال الخير ، وتجنب أعمال الشرّ
"Di dalam ayat ini terdapat sesuatu untuk menakut-nakuti dan ancaman, yaitu sesungguhnya pekerjaan kalian tidaklah tersembunyi bagi Allah, tidak pula bagi RasulNa dan orang-orang beriman. Maka, bersegeralah melakukan pekerjaan yang baik dan ikhlaskanlah pekerjaan kalian hanya untuk Allah 'Azza wa Jalla. Dalam ayat ini juga terdapat sesuatu untuk menyemangatkan dan menggiatkan, maka siapa saja yang tahu bahwa perbuatannya tidaklah tersembunyi (dari penglihatan Allah, pen), baik pekerjaan yang baik atau buruk, maka hendaknya dia bersegera melaksanakan pekerjaan yang baik dan menjauhi yang buruk." (Imam Asy Syaukani, Fathul Qadir, 3 /311. Mauqi' Ruh Al Islam)
2. Karena Usaha Adalah Sunatullah Kehidupan di Dunia
Benar, bahwa sukses dan gagal adalah ketentuan Allah 'Azza wa Jalla, tetapi kita dituntut untuk mengusahakan sebab-sebabnya. PLN telah menentukan bahwa rumah anda terang benderang karena sudah dialirkan listrik, tetapi anda selaku pemilik rumah diam saja dan tidak tergerak menyalakan lampu, tidak menekan stop kontak, maka rumah anda tetap akan padam. Begitulah sunatullah kehidupan di dunia. Anda tak bisa mengandalkan kepasrahan semata tanpa mempersiapkan sesab-sebabnya.
Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (QS. Ar Ra'du (13 ): 11)
Para ahli tafsir mengatakan bahwa Allah 'Azza wa Jalla tidak akan merubah suatu kaum kecuali jika kaum itu mau merubah sebab-sebab yang membuat mereka mundur. Sebab-sebab itu ada dua macam, yakni sabab syar'i dan sabab kauni
Sabab Syar'i, yaitu sebab yang dilakukan seorang hamba atau kaum, berupa merubah hubungannya dengan Allah 'Azza wa Jalla. Jika dia merubah hubungan dengan Allah 'Azza wa Jalla semakin buruk, tadinya taat menjadi maksiat, rajin ibadah menjadi malas, berbakti kepada orang tua menjadi durhaka, dan lain sebagainya, maka Allah 'Azza wa Jalla pun akan merubahnya kearah yang buruk, sesuai perubahan yang dibuatnya. Jika dia merubah hubungan dengan Allah 'Azza wa Jalla semakin baik, sebelumnya maksiat menjadi taat, malas ibadah menjadi rajin, melawan orang tua menjadi berbakti, dan lain sebagainya, maka Allah 'Azza wa Jalla pun merubahnya menjadi baik hasilnya, sesuai sebab yang diperbuatnya.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa'di Rahimahullah dalam tafsirnya mengatakan tentang ayat di atas:
{ إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ } من النعمة والإحسان ورغد العيش { حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ } بأن ينتقلوا من الإيمان إلى الكفر ومن الطاعة إلى المعصية، أو من شكر نعم الله إلى البطر بها فيسلبهم الله عند ذلك إياها.
وكذلك إذا غير العباد ما بأنفسهم من المعصية، فانتقلوا إلى طاعة الله، غير الله عليهم ما كانوا فيه من الشقاء إلى الخير والسرور والغبطة والرحمة
"(Sesungguhnya Allah tidaklah merubah keadaan suatu kaum) berupa kenikmatan, kebaikan, dan kelapangan hidup (sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri) dengan berubahnya keimanan mereka menjadi kufur (ingkar), dari taat menjadi maksiat, atau dari bersyukur atas nikmat Allah menjadi sikap bangkang terhadapnya, maka Allah mencabut ketika itu atas semuanya. Demikian juga jika seorang hamba merubah apa yang ada pada diri mereka, dari maksiat menjadi taat kepada Allah, maka Allah akan merubah apa-apa yang ada padanya, dari kemalangan menjadi kebaikan, kebahagiaan, kegembiraan, dan kasih sayang." (Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa'di, Taisirul Karim Ar Rahman fi Tafsir Kalam Al Manan, Hal. 414 . Cet. 1. 1420 H-2000M. Muasasah Ar Risalah)
Sebab Kauni yaitu sebab yang dilakukan oleh seorang hamba atau kaum sebagai tuntutan rasional kehidupan di dunia (sunatullah kehidupan/orang sekuler mengatakan Hukum Alam).
Kehamilan adalah kehendak Allah 'Azza wa Jalla, tetapi sabab kauni-nya adalah kehamilan mesti didahului bertemunya dua benih; sel telur dan sperma. Musibah banjir dan tanah longsor memang kehendak Allah 'Azza wa Jalla, tetapi sunatullah juga menetapkan bahwa jika manusia membuang sampah sembarang serta membuat pemukiman penduduk di daerah resapan air, maka yang terjadi adalah banjir. Begitu juga menggunduli hutan sehingga air tidak lagi mampu dipikul oleh tanah, maka yang terjadi adalah longsor. Sembuh dari penyakit adalah atas kehendak Allah 'Azza wa Jalla, tetapi ada sabab kauni-nya, yakni berobat.
Lulus tidaknya sesorang siswa dalam ujian memang kehendak Allah 'Azza wa Jalla, tetapi sabab kauni-nya adalah karena kerja kerasnya. Belajar yang teratur dan terstruktur, menjaga stamina fisik dan psikis, serta tetap menjaga kehati-hatian dalam mengerjakan soal. Adapun, jika dia tidak melakukan hal ini, atau biasa- biasa saja, maka sunatullahnya adalah dia akan gagal. Begitulah....
Sabab kauni ini jelas diakui oleh Islam. Imam Muslim dalam kitab Shahihnya meriwayatkan:
Dari Anas bin Malik Radhiallahu 'Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam melewati sebuah kaum yang sedang menyerbukkan kurma, lalu beliau bersabda: "Seandainya kalian tidak melakukan itu niscaya hasilnya baik." (lalu mereka mengikuti anjurannya) Ternyata hasilnya jelek. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bertanya: "Bagaimana pohon Kurma kalian?" Mereka menjawab begini dan begitu. Lalu, Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:
أنتم أعلم بأمر دنياكم
"Kalian lebih tahu urusan dunia kalian." (HR. Muslim No. 2363)
Artinya, mereka adalah petani kurma, sedangkan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bukan petani kurma, melainkan pedagang dan penggembala, maka petani lebih tahu urusan pertanian dibanding pedagang dan penggembala. Inilah sabab kauni yang mesti kita perhatikan dalam kandungan kisah ini. Apa yang dianjurkan oleh Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam hanya sebatas pendapat pribadi yang diketahuinya saja, namun karena para sahabat adalah kaum yang sangat taat kepadanya, maka mereka tetap mengikutinya, sebab khawatir jika ternyata perintah itu adalah wahyu dari Allah 'Azza wa Jalla.
I. Kenapa Harus Berdoa?
Bagi orang yang berilmu, maka kesuksesan mesti diraih dengan usaha rasional. Tapi, tidak cukup itu saja, sebab bagi orang yang beriman kesuksesan juga mesti diraih dengan doa. Maka, perpaduan antara keilmuan dan keimanan seseorang, akan membentuk wujud nyata sikap dan perilaku yang seimbang, tidak pincang, dan utuh; yakni usaha dan doa. Orang bijak juga mengatakan, "Usaha tanpa doa adalah sombong, doa tanpa usaha adalah mimpi yang kosong."

Ya, usaha tanpa doa, seakan dialah yang menentukan hasil akhir dari usahanya itu, padahal banyak manusia yang tidak berdaya ketika menghadapi badai besar di akhir dari usahanya. Inilah kesombongan dan keangkuhan ditengah kelemahan manusia. Lihatlah petani, sehari lagi mereka panen besar dan sudah banyak khayalan yang mereka buat jika nanti selesai panen. Namun, dia tidak berdaya tatkala keesokkan harinya hujan besar menenggelamkan sawah dan rumahnya.
Ya, doa tanpa usaha adalah mimpi kosong, seakan untuk menuju puncak cukup sekali lompat dan sekali teriakan. Berdoa, lalu merintih dalam doanya, bahkan menangis tersedu-sedu, tapi setelah itu kembali sibuk dengan dunia permainannya, dunia yang melalaikannya, maka bagaimana bisa apa yang dimintanya terwujud? Ibarat seorang yang meminta langsing tapi makan dan tidur tak pernah dikontrol. Meminta selamat dari api neraka, tapi dia justru mendekati api neraka dengan maksiatnya. Jika seperti ini, maka tak akan pernah sama antara permintaan dan kenyataan! Sebab, itu tidak rasional dan hanya omdo (omong doang).
Berikut ini letak urgensitas (kepentingan) doa bagi seorang muslim.
1. Berdoa adalah perintah Allah 'Azza wa Jalla.
Allah Ta'ala memerintahkan hamba-hambaNya yang mukmin untuk meminta kepadaNya jika mereka memiliki hajat (kebutuhan) bagi hajat dunia maupun akhirat. Bukan meminta kepada dukun, paranormal, peramal, cenayang, 'orang pintar', atau yang semisalnya. Baik mendatangi langsung atau sekedar menanyakannya melalui kirim REG (spasi) NAMA(spasi)MBAH JIBRUT atau NYI BLORONG, yang justru menjatuhkan mereka dalam jurang kesyirikan yang menghancurkan ketauhidan.
Allah Ta'ala memrintahkan hambaNya untuk berdoa:
"Memintalah kepadaKu niscaya Aku kabulkan permintaanmu." (QS. Al Mu'min (40 ): 60)
Lihatlah hamba Allah yang shalih, Nabi Ya'qub 'Alaihissalam, dia mengadukan kesedihannya hanya kepada Allah Ta'ala tentang keadaan putranya, Yusuf 'Alaihissalam.
"Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya." (QS. Yusuf (12 ): 86)
2. Berdoa merupakan tanda pengabdian dan bukti pengesaan kita kepada Allah 'Azza wa Jalla
Di ayat yang sama, Allah Ta'ala menyebut orang yang tidak mau berdoa sebagai orang yang menyombongkan dirinya:
"Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina." (QS. Al Mu'min (40 ): 60)
Para ahli tafsir mengatakan, diantaranya Imam Ibnu Katsir Rahimahullah mengatakan bahwa maksud "orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu" adalah orang yang enggan berdoa kepadaNya dan tidak mengesakanNya. (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al 'Azhim, 7 /155. Dar Nasyir wat Tauzi' Lith Thiba'ah)
3. Berdoa merupakan perilaku orang-orang mulia
Dalam Al Quran banyak dikisahkan doa para nabi dan shalihin yang sangat menggunggah. Status mereka sebagai Nabi dan Rasul, tidaklah melupakan kebutuhan mereka untuk tetap memohon kepada Allah Ta'ala ketika menghadapi kesulitan dalam dakwah, ujian hidup, dan juga peperangan.
4. Berdoa adalah bagian dari usaha dan sukses itu sendiri
Berdoa pada hakikatnya juga usaha. Bahkan sebagian ulama menyebut berdoa adalah sebagian dari kesuksesan. Keinginan seorang muslim untuk berdoa merupakan kemenangannya atas hawa nafsu kesombongan yang potensial ada dalam diri manusia. Bisa jadi - dan nampaknya ini sudah sering terjadi- manusia sudah merasa cukup, puas, dan kuat dengan usaha rasional yang telah diupayakannya, yang dengannya membuat ia melupakan peran Allah 'Azza wa Jalla atas masa depannya. Maka, berbahagialah bagi orang-orang yang berdoa, sebab mereka telah melewati setengah kemenangan yang dinanti-nantikannya.
II. Kenapa Doa Tidak Dikabulkan?
Ini adalah kenyataan yang nampaknya tidak mengenakkan di tengah janjiNya bahwa Dia akan mengabulkan doa hamba- hamaNya. Tetapi hal ini memang ada, kenapa bisa terjadi? Apa yang harus dievaluasi?
Ada banyak sebab doa kita di tolak, diantaranya:
1. Makan dan Minum dari yang Haram
Dari Abu Hurairah Radhiallahu 'Anhu, dia berkata:
ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ
"Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menyebutkan, seorang laki-laki yang panjang perjalanannya, berambut kusut, berdebu, dan menengadahkan tangannya ke langit: "Ya Rabb.. Ya Rabb.., tetapi dia suka makan yang haram, minum yang haram, pakaiannya juga haram, dan dikenyangkan dengan yang haram. Maka, bagaimana doanya bisa dikabulkan?" (HR. Muslim No. 1015)
2. Tergesa-gesa dalam Berdoa
Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, dia berkata: Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Doa salah seorang di antara kalian pasti akan dikabulkan selama dia tidak tergesa-gesa, yaitu dia mengatakan: Saya sudah berdoa akan tetapi belum dikabulkan." (HR. Bukhari No. 6340)
Bukan hanya itu, dia juga tidak menjaga adab-adab doa yang lainnya.
3. Meninggalkan Kewajiban
Dari Huzaifah Radhiallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam beliau bersabda, "Demi yang jiwaku berada di tangan- Nya, kalian harus betul-betul memerintahkan kepada yang ma'ruf dan melarang dari yang mungkar, kalau tidak maka betul-betul dikhawatirkan Allah akan menjatuhkan kepada kalian semua siksaan dari-Nya, kemudian kalian berdoa kepada-Nya akan tetapi Dia tidak mengabulkannya." (HR. At Tirmidzi No. 2169, katanya: hasan)
Hadits ini menyebutkan bahwa meninggalkan salah satu kewajiban agama yakni kewajiban untuk amar ma'ruf nahi munkar (mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran), merupakan salah satu penyebab ditolaknya doa.
4. Menjalankan Larangan dan Maksiat
Inilah keanehan manusia. Ketika mereka membutuhkan sesuatu atau dalam keadaan sulit, mereka mencari-cari Tuhannya, mereka memohon dan menangis, serta mengakui semua kesalahan dan kelemahanna. Tetapi ketika kesulitan hilang, mereka melupakanNya dan kembali maksiat kepadaNya. Bagaimana yang seperti ini dikabulkan doanya?
Ada jawaban sangat bagus dari Imam Ibrahim bin Ad-ham Rahimahullah atas pertanyaan ini. Ketika beliau ditanya kenapa doa tidak dikabulkan dia menjawab:
1. Seseorang yang meyakini adanya Allah, tetapi ia tidak menunaikan hak-hakNya.
2. Seseorang yang telah membaca ( mengerti ) kitab Allah, tetapi tidak mengamalkanya.
3. Seseorang yang mengetahui bahwa syetan adalah musuhnya yang nyata, tetapi ia justru mengikuti langkah-langkahnya.
4. Seseorang yang mengaku mencintai Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, tetapi meninggalkan atsar dan sunnahnya.
5. Seseorang yang mencita- citakan masuk surga namun meninggalkan amalan - amalan masuk surga.
6. Seseorang mengatakan takut adzab neraka, tetapi ia tidak berhenti melakukan dosa dan maksiat.
7. Seseorang yang yakin tentang kepastian datangnya ajal, tetapi ia tidak mempersiapkan diri untuk menghadapinya.
8. Seseorang yang sibuk dengan aib dan cacat orang lain, tetapi ia melupakan cacat dan aibnya sendiri.
9. Seseorang yang makan rizki Allah, tetapi tidak mensyukurinya.
10. Seseorang yang mengubur orang mati, tetapi ia tidak mengambil pelajaranya dari padanya.
5. Allah Ta'ala Sedang menguji hambaNya
Sebenarnya Allah Ta'ala punya banyak cara untuk menguji keimanan hambaNya, di antaranya dengan tidak dikabulkannya doa, khususnya di dunia. Apakah dengan itu dia semakin beriman atau justru lari dariNya.
Hamba yang mukmin dan shabirin (sabar) akan meyakini bahwa Allah Ta'ala punya rencana lain untuknya, dan itu pasti lebih baik. Sebab Dia lebih tahu dibanding hambaNya sendiri tentang apa yang terbaik bagi hambaNya. Hamba minta A, Allah 'Azza wa Jalla memberinya B, dan B itu ternyata lebih baik baginya. Atau, Allah Ta'ala menundanya sebagai ujian kesabaran dan sekaligus memang itulah momen yang pas baginya untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al Baqarah (2 ): 216)

[1] Tahnik adalah memasukkan kurma yang telah dilembutkan ke dalam mulut bayi, di bagian langit-langitnya, dilakukan tidak lama setelah lahirnya bayi.
Tags: syarah hadits arbain

وَإِذَاَ اسْتَعَنتَ فَاسْتَعِن بِاللهِ: jika kamu menghendaki pertolongan mintalah pertolongan Allah
Ini adalah penegas dan pengkhususan dari sebelumnya. Berdoa lebih umum daripada meminta pertolongan. Seandainya disebutkan: "jika anda meminta, maka mintalah kepada Allah," sebenarnya sudah mencukupi. Tapi, dalam hadits ini ditekankan lagi dengan meminta pertolongan.
Sama halnya dengan hadits: "barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang diinginkan, atau wanita yang ingin dinikahinya... dst." Seandainya hanya disebut hijrahnya karena dunia, itu sudah cukup sebab wanita adalah bagian dari perhiasan dunia, tetapi hadits ini mengkhususkan lagi dengan hijrah karena wanita. Masih banyak lagi contohnya.
Ini menunjukkan bahwa hal tersebut membutuhkan perhatian tersendiri.
Jika kamu menghendaki pertolongan, yaitu jika kamu membutuhkan bantuan, kemudahan, kekuatan menghadapi masalah, dan kemenangan dari musuh, bantuan urusan agama dan dunia, " mintalah pertolongan kepada Allah 'Azza wa Jalla," karena Dia yang Maha Kuat dan Berkuasa atas segalanya.
Berkata Syaikh Abul 'Ala Al Mubarkafuri Rahimahullah:
( وإذا استعنت ) أي أردت الاستعانة في الطاعة وغيرها من أمور الدنيا والآخرة ( فاستعن بالله(فإنه المستعان وعليه التكلان
(Jika kamu minta pertolongan) yaitu jika kamu menghendaki pertolongan dalam ketaatan dan selainnya dari urusan dunia dan akhirat (maka mintalah pertolongan Allah) karena Dia adalah tempat minta tolong dan kita bersandar. (Tuhfah Al Ahwadzi, 7 /220)
Meminta pertolongan kepada Allah Ta'ala adalah bukti kejernihan tauhid seseorang. Allah Ta'ala berfirman:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMu kami meminta pertolongan. (QS. Al Fatihah (1 ): 5)
Dalam tafsir Al Muyassar di sebutkan:
إنا نخصك وحدك بالعبادة، ونستعين بك وحدك في جميع أمورنا، فالأمر كله بيدك، لا يملك منه أحد مثقال ذرة. وفي هذه الآية دليل على أن العبد لا يجوز له أن يصرف شيئًا من أنواع العبادة كالدعاء والاستغاثة والذبح والطواف إلا لله وحده
Sesungguhnya kami mengkhususkanMu dan mengesakanMu dalam beribadah, dan kami meminta pertonganMu semata pada semua urusan kami, maka semua urusan ada di tanganMu, tidak ada seorang pun yang memiliki kekuasaan terhadapnya walau sebesar atom. Pada ayat ini merupakan dalil bahwa seorang hamba tidak boleh mempersembahkan sedikit pun berbagai macam ibadahnya seperti doa, istighatsah, dan thawaf, kecuali untuk Allah semata. (Tafsir Al Muyassar, Hal. 11)
Dibolehkan meminta pertolongan kepada manusia pada hal-hal yang memang manusia dapat melakukannya jika memang harus seperti itu, itu pun meyakininya sebagai sebab saja bukan tempat pijakan utama. Ada pun meminta hal yang menjadi prerogatif Allah Ta'ala hanya dibolehkan meminta kepadaNya, bukan kepada selainNya.
Syaikh Ibnul 'Utsaimin Rahimahullah menjelaskan:
وكذلك أيضا إذا استعنت فاستعن بالله الاستعانة طلب العون فلا تطلب العون من أي إنسان إلا للضرورة القصوى ومع ذلك إذا اضطررت إلى الاستعانة بالمخلوق فاجعل ذلك وسيلة وسببا لا ركنا تعتمد عليه
Demikian juga, jika engkau meminta pertolongan mintalah pertolongan kepada Allah. Al Isti'anah adalah meminta pertolongan, maka janganlah kamu meminta pertolongan kepada manusia siapapun kecuali sangat mendesak, bersamaan itu jika kamu terpaksa meminta pertolongan kepada makhluk maka jadikan itu sebagai sarana dan sebab saja, bukan sebagai rukun yang kamu bersandar kepadanya. (Syaikh Ibnul 'Utsaimin, Syarh Riyadhush Shalihin, Hal. 70. Mawqi' Jami' Al Hadits An Nabawi)
Ada bentuk permintaan pertolongan yang dilarang syariat bahkan termasuk kesyirikan, seperti meminta pertolongan dukun, ahli sihir, jimat, orang mati, arwah nenek moyang (animisme) dan benda-benda keramat (dinamisme). Semua ini mesti dijauhi dan diperangi, dan tidak boleh diberi ruang sedikit pun untuk eksis, sebab syirik adalah sebesar-besarnya dosa dan kedurhakaan.
Ada pun manusia saling menolong bersama manusia lainnya sangat banyak diterangkan dalam Al Quran dan Al Hadits, yakni dalam hal kebaikan, ketaqwaan, keilmuan, dan hal lain yang memang dibenarkan dan diakui oleh akal, tradisi, dan syariat.
Selanjutnya:
وَاعْلَم أَنَّ الأُمّة لو اجْتَمَعَت عَلَى أن يَنفَعُوكَ بِشيءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلا بِشيءٍ قَد كَتَبَهُ اللهُ لَك: ketahuilah seandainya segolongan umat berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu dengan sesuatu,, niscaya mereka tidak bisa memberikan manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu
Yaitu ketahuilah dan yakinilah, bahwa walaupun semua manusia dan makhluk Allah Ta'ala lainnya berkumpul, bekerjasama, dan berupaya keras untuk memberikan manfaat untukmu dengan sesuatu, niscaya mereka tidak akan mampu memberikan kamu apa-apa sedikit pun kecuali dengan sesuatu yang sudah Allah Ta'ala tetapkan bagi kamu.
Syaikh Ismail bin Muhammad Al Anshari mengatakan:
الأمة : المراد بها هنا سائر المخلوقات.
Al Ummah: yang dimaksud di sini adalah seluruh makhluk. (At Tuhfah Ar Rabbaniyah, Syarah No. 19)
Syaikh Abdul Muhsin Hamd bin Al 'Abbad Al Badr menjelaskan pula:
بعد أن ذكر أنَّ السؤال لله وحده والاستعانة بالله وحده، أخبرَ أنَّ كلَّ شيء بيده، وأنَّه لا مانع لِمَا أعطى، ولا مُعطي لِمَا منع، وأنَّ كلَّ شيء لا يخرج عن إرادته ومشيئته، وأنَّ العبادَ لا يُمكنهم أن ينفعوه بشيء لم يُقدِّره الله، ولا أن يضرُّوه بشيء لم يُقدِّره الله، وأنَّ كلَّ شيء يقع أو لا يقع سبق به القضاء والقدر
Setelah Beliau menyebutkan bahwa berdoa hanya kepada Allah satu-satunya dan meminta pertolongan kepada Allah semata, Beliau mengabarkan bahwa segala sesuatu ada ditanganNya, dan tidak ada yang memapu mencegah apa yang diberikanNya, dan tidak ada yang mampu memberi apa-apa yang dicegahNya, dan segala sesuatu tidak akan keluar dari lingkup kehendak dan kemauanNya, sesungguhnya para hamba tidak akan bisa memberikan manfaat kepadanya dengan sesuatu dengan apa-apa yang belum Allah taqdirkan, dan tidak pula memberikan mudharat dengan sesuatu selama Allah belum menetapkannya pula, dan sesungguhnya segala sesuatu terjadi atau tidak sudah didahului oleh qadha dan qadar. (Fathul Qawwi Al Matin, Hal. 62)
Ya, jika Allah Ta'ala sudah menetapkan kebaikan kepada seseorang maka dia akan mendapatkannya, dan Allah Ta'ala Maha Berkuasa untuk melakukannya tanpa usah dibantu oleh semua makhlukNya. Dan, kebaikan itu tidak akan ada yang mampu membatalkannya walau semua makhluk bersatu untuk menghilangkannya.
Selanjutnya:
وإِن اِجْتَمَعوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشيءٍ لَمْ يَضروك إلا بشيءٍ قَد كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ: dan seandainya mereka berkumpul untuk memudharatkanmu dengan sesuatu, niscaya mereka tidak akan mampu memudharatkanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu
Yakni seandainya semua makhluk berkumpul, bekerja sama, dan berusaha untuk mencelakakan, merugikan, dan merusak kehidupan kamu dengan sesuatu, mereka tidak akan mampu melakukannya, tidak akan berhasil, dan selalu gagal, kecuali dengan mudharat yang sudah Allah Ta'ala tulis untuk kamu.
Maka, baik atau buruk yang menimpa manusia adalah ketentuanNya. Berkata Imam Ibnu Daqiq Al 'Id Rahimahullah:
كذلك في الضر وهذا هو الإيمان بالقدر والإيمان به واجب خيره وشره وإذا تيقن المؤمن هذا فما فائدة سؤال غير الله والاستعانة به وكذلك إجابة الخليل عليه الصلاة والسلام جبريل عليه السلام حين سأله وهو في الهواء: "ألك حاجة؟ قال: أما إليك فلا"
Demikian juga dalam hal keburukan, ini adalah keimanan terhadap qadar dan mengimaninya adalah wajib, baik terhadap qadar baik maupun yang buruk, jika seorang mukmin meyakini ini maka tidak ada manfaatnya berdoa dan meminta tolong kepada selain Allah. Begitu juga jawaban Al Khalil (Ibrahim) Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, kepada Jibril 'Alaihis Salam ketika Jibril bertanya kepadanya saat itu dia di udara: "Apakah kamu ada perlu?" Ibrahim menjawab: "Ada pun kepadamu, tidak ada." (Imam Ibnu Daqiq Al 'Id, Syarhul Arbain An Nawawiyah, Hal. 77. Maktabah Misykah) [1]

Ya, jika Allah Ta'ala sudah menetapkan keburukan dan kehinaan kepada seseorang maka dia akan mendapatkannya, dan Allah Ta'ala Maha Berkuasa untuk melakukannya tanpa usah dibantu oleh semua makhlukNya untuk mendatangkan keburukan itu. Dan, keburukan itu tidak akan ada yang mampu membatalkannya walau semua makhluk bersatu untuk menghilangkannya, dan menggantikannya dengan kemuliaan.
Karena Allah Ta'ala berfirman:
وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ
Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki. (QS. Al Hajj (22 ): 18)
Oleh karenanya dilanjutkan dengan sabdanya:
رُفعَت الأَقْلامُ، وَجَفّتِ الصُّحُفُ: pena- pena telah diangkat, dan lembaran-lembaran telah mengering tintanya
Yakni semua urusan telah ditetapkan, semua sudah ada batasan, ukuran, waktu, corak dan warnanya sesuai apa yang dikehendakiNya, dan tidak ada yang bisa merubahnya kecuali Dia. Itulah Lauh Mahfuzh. Oleh karena itu, manfaat dan mudharat yang direncanakan semua makhluk terhadap seseorang, tidak akan bisa berdaya apa-apa, tidak ada tulis ulang, karena pena sudah diangkat dan tinta sudah mengering.
Berkata Syaikh Abul 'Ala Al Mubarkafuri Rahimahullah:
أي كتب في اللوح المحفوظ ما كتب من التقديرات ولا يكتب بعد الفراغ منه شيء آخر
Yaitu (Allah) menulis di Lauh Mahfuzh berupa berbagai taqdir, Dia tidak menulis apa pun yang lain setelah selesai dari itu. (Tuhfah Al Ahwadzi, 7 /220)
Dari keterangan ini, nampak adanya perbedaan pendapat di antara ulama, apakah apa yang telah ditulisNya dalam Lauh Mahfuzh, dapat diubah sesuai kehendakNya atau tidak. Hadits ini menunjukkan apa-apa yang telah ditulisNya tidak akan dihapus dan diubah.
Namun Allah Ta'ala berfirman:
يَمْحُوا اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ
Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh). (QS. Ar Ra'du (13 ) : 39)

Ayat ini menjadi dalil bagi ulama yang mengakui bahwa apa yang tertera dalam Lauh mahzfuh dapat diubah sesuai kehendakNya. Mari kita perhatikan ta'wil ayat ini, Imam Abul Hasan Al Mawardi Rahimahullah menyebutkan ada tujuh pendapat:
Allah 'Azza wa Jalla akan menghapus sesuai kehendakNya urusan hamba-hambaNya, dan merubahnya, kecuali urusan susah dan senangnya, keduanya tidak berubah. Ini pendapat Ibnu Abbas.
Allah 'Azza wa Jalla menghapuskan dan menetapkan apa yang Dia kehendaki di dalam Kitab selain Ummul Kitab (lauh mahfuzh). Ada dua kitab, pertama adalah Ummul Kitab yang Dia tidak menghapusnya dan tidak merubahnya sedikit pun sebagaimana kehendakNya. Ini pendapat 'Ikrimah.
Allah 'Azza wa Jalla menghapus sesuai kehendakNya hukum- hukum yang ada dalam kitabNya, dan Dia metetapkan apa yang dikehendakiNya maka Dia tidak menghapusnya. Ini pendapat Qatadah dan Ibnu Zaid.
Allah 'Azza wa Jalla menghapuskan orang-orang yang telah datang ajalnya dan menetapkan orang-orang yang belum datang ajalnya. Ini pendapat Al Hasan Al Bashri.
Allah 'Azza wa Jalla mengampuni dosa-dosa siapa saja yang dikehendakiNya dari hambaNya, dan membiarkan apa-apa saja yang dihendakiNya, Dia tidak mengampuni. Ini pendapat Said bin Jubeir.
Seorang laki-laki mendahulukan berbuat ketaatan lalu mengakhirinya dengan maksiat maka terhapuslah apa yang telah lalu, dan ada orang hang mendahulukan berbuat maksiat lalu mengakhirinya dengan ketaatan lalu terhapuslah yang telah lalu. Ini juga pendapat Ibnu Abbas.
Bahwa adanya penjagaan dari malaikat, mereka mengangkat ucapan dan perbuatan manusia, lalu Allah menghapus sebagiannya yang tidak terdapat pahala dan siksa, dan menetapkan bagian yang memiliki pahala dan siksa. Ini pendapat Adh Dhahak. (Lihat Imam Abul Hasan Al Mawardi, An Nukat wal 'Uyun, 2 /318. Mawqi' At Tafasir)
Manshur berkata:
سألت مجاهدًا فقلت: أرأيت دعاءَ أحدنا يقول:"اللهم إن كان اسمي في السعداء فأثبته فيهم، وإن كان في الأشقياء فامحه واجعله في السعداء"، فقال: حَسنٌ.
Aku bertanya kepada Mujahid: "Apa pendapat anda tentang doa dari salah seorang kami yang berkata: "Ya Allah jika namaku ada pada deretan orang-orang bahagia maka tetapkanlah bersama mereka, dan jika berada pada deretan orang-orang sulit maka hapuslah dan jadikanlah bersama orang-orang bahagia." Mujahid menjawab: "Bagus." (Imam Abu Ja'far bin Jarir Ath Thabari, Jami' Al Bayan fi Ta'wilil Quran, Juz. 16 , Hal. 480 . Cet. 1. 1420 H-2000M. Tahqiq: Syaikh Ahmad Syakir. Muasasah Ar Risalah)
Kaum salaf -seperti Syaqiq dan Abu Wa-il- juga berdoa:
اللهم إن كنت كتبتنا أشقياء، فامحنَا واكتبنا سعداء، وإن كنت كتبتنا سعداء فأثبتنا، فإنك تمحو ما تشاءُ وتثبت وعندَك أمّ الكتاب
"Ya Allah, jika Engkau menetapkan kami bersama orang-orang yang sengsara, maka hapuskanlah kami, dan tulislah kami bersama orang- orang yang bahagia. Jika Engkau tetapkan kami bersama orang- orang yang bahagia, maka tetapkanlah, sesungguhnya Engkau menghapus apa-apa yang Kau kehendaki, dan menetapkannya, dan pada sisiMu terdapat Ummul Kitab." (Ibid)
Diriwayatkan dari Abu Utsman Al Hindi, bahwa Umar bin Al Khathab Radhiallahu 'Anhu berdoa -dan dia sedang thawaf di baitullah sambil menangis:
اللهم إن كنت كتبت علي شِقْوة أو ذنبًا فامحه، فإنك تمحو ما تشاء وتثبت. وعندك أم الكتاب، فاجعله سعادةً ومغفرةً
"Ya Allah, jika Engkau menetakan atasku kesulitan atau dosa maka hapuslah, sesungguhnya Engkau menghapuskan apa-apa yang Engkau kehendaki dan menetakannya. Dan pada sisiMu ada Ummul Kitab, maka jadikanlah dia menjadi bahagia dan ampunan." (Ibid)
Sementara Ibnu Mas'ud Radhiallahu 'Anhu berdoa:
اللهم إن كنت كتبتني في [أهل] الشقاء فامحني وأثبتني في أهل السعادة
"Ya Allah, jika Engkau tetapkan aku pada kelompok orang yang malang, maka hapuskanlah aku, dan tetapkanlah aku pada golongan orang yang bahagia." (Ibid, Juz. 16 , Hal. 483)
Apa yang dilakukan para salaf, bukanlah tanpa dalil, karena Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sendiri menegaskan:
لَا يَرُدُّ الْقَضَاءَ إِلَّا الدُّعَاءُ وَلَا يَزِيدُ فِي الْعُمْرِ إِلَّا الْبِرُّ
"Tidaklah ketetapan Allah dapat ditolak kecuali dengan doa, dan tidaklah menambahkan usia kecuali berbuat kebaikan." (HR. At Tirmidzi no. 2139 , katanya: hasan gharib. Syaikh Al Albani mengatakan hasan, Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 2139 . Lihat Juga Shahihul Jami' No. 7687 . Lihat juga Shahih At Targhib wat Tarhib No.1639 , 2489 . Lihat juga As Silsilah Ash Shahihah No. 154)
Oleh karena itu, Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pun mengajarkan doa sebagai berikut: Dari Anas bin Malik Radhiallahu 'Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:
لَا يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمْ الْمَوْتَ مِنْ ضُرٍّ أَصَابَهُ فَإِنْ كَانَ لَا بُدَّ فَاعِلًا فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتْ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتْ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي
"Janganlah kalian mengharapkan kematian lantaran buruknya musibah yang menimpa, sekali pun ingin melakukannya, maka berdoalah: "Allahumma Ahyini Maa Kaanat Al Hayatu Khairan Liy, wa Tawaffani Idza Kaanat Al Wafaatu Khairan Liy (Ya Allah, hidupkanlah aku selama kehidupan itu adalah baik bagiku, dan wafatkanlah aku jika memang wafat itu baik bagiku)." (HR. Bukhari No. 5990 , Muslim No. 2680 , At Tirmidzi No. 970 , Ibnu Hibban No. 968 , Abu Ya'la No. 3799 , 3891 , Ahmad No. 13579 )
Dari berbagai keterangan ini, nampak bagi kami bahwa pendapat yang menyebutkan bahwa apa-apa yang ditulisNya dapat diubah dengan kehendakNya adalah lebih kuat. Wallahu A'lam
Selesai... wa akhiru da'wana an alhamdulillahi rabbil 'alamin

[1] Kisah Nabi Ibrahim dan Jibril yang dikutip Imam Ibnu Daqiq Al 'Id ini, diriwayatkan oleh Imam Al Baihaqi dalam Syu'abul Iman No. 1077, dengan sanad Abu Abdillah Al Hafizh, Abul Abbas bin Yaqub, Muhammad bin Abdul Wahhab, Ali bin'Atsam, Bisyr bin Al Harits, lalu dia cerita seperti di atas.
Kisah ini juga terdapat dalam beberapa kitab tafsir, seperti Tafsir Al Quran Al 'Azhim, 5 /351 , Dar Ath Thayyibah. Adhwa'ul Bayan, 3 /425 dan 4 /163 , Darul Fikr. Lalu Aysar At Tafasir, 2 /480 , Mawqi' At Tafasir. Lihat juga Al Bahrul Muhith, 8 /185 , Mawqi' At Tafasir. Lihat juga Al Bahrul Madid, 4 /91-92 , Mawqi' At Tafasir. Lihat Ad Durul Mantsur, 7 /73 , Mawqi' At Tafasir. Lihat juga Al Kasysyaf, 4 /243, dan lain- lainnya.
Syaikh Al Albani Rahimahullah mengatakan tentang riwayat ini: laa ashala lahu - tidak ada dasarnya dari nabi, merupakan riwayat Israiliyat. (As Silsilah Adh Dhaifah No. 21)

Tags: syarah hadits arbain


<<BACK