Disneyland 1972 Love the old s


MERAIH TIKET KESYURGA TANPA HISAB
Dalam sebuah hadits Rasululloh saw menegaskan terdapat empat macam perbuatan yang mengantarkan pelakunya memperoleh tiket ke sorga tanpa melalui proses hisab, yakni : Pertama, Afsus Salam (Menyebarkan Salam) Menyebar salam adalah memberikan manfaat keselamatan, kedamaian dan ketenteraman kepada seluruh mahluk di jagad makrokosmos ini. Itulah tugas utama sekaligus merupakan karakteristik dari kaum muslimin, karena itu Nabi saw menegaskan "tidak termasuk golonganku orang yang membuat tetangganya tidak tenang karena kejahatannya". Dengan semangat rahmatan lil alamin, diharapkan terwujud komonitas masyarakat yang salamah dan saling menentramkan yang didalamnya sarat toleransi dan persaudaraan. Guna mewujudkan semangat salam yang saling menentramkan, Islam mengajarkan kita beberapa hal, antara lain budayakan Islah dan tabayyun, hindarkan taskhirriyah, meremehkan atau memperolo- olakn orang lain., Jangan suka menghina orang lain, jauhkan diri dari sikap su-udhon atau buruk sangka, jangan suka mencari kesalahan orang lain dan jangan suka menggunjing orang lain atau ghibah. Kedua, Wasilul Arham (Menyambung tali silatur rahiem) Dalam sebuah Hadits disebutkan "barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya menyambung tali silatur rahiem". Pada kesempatan lain Rasululloh saw bersabda " "Maukah kalian Aku tunjukkan hal hal yang menyebakan kalian diangkat derajatnya oleh Allah ? Na'am kata para sahabat, Nabi berkata " Kau ma'lumi orang yang mengejek dan menentangmu karena ketidak tahuannya, anda maafkan orang- orang yang mendholimimu, Kau berikan rizqimu pada orang yang mengharamkan hartanya untukmu dan anda sambungkan tali persaudaraan dengan orang yang memutuskannya". Karena itu yang dimaksud dengan Silatur Rahiem bila mengacu pada hadits Nabi saw adalah "Laysal muwashil bil mukafi' walakin al muwashil 'an tashil man qatha'ak (Silatur rahiem itu bukanlah membalas kunjungan atau pemberian, tetapi menyambung apa yang terputus) Kedudukan budaya silatur rahiem sangat urgen dalam kehidupan, karena akan mengantarkan kita pada tiga sikap utama, yakni akseptasi (kesediaan menerima keberadaan kelompok lain), apresiasi (menghargai keyakinan kelompok lain) dan ko eksistensi (kesediaan untuk hidup berdampingan secara damai dengan kelompok lain), tiga sikap ini pada gilirannya akan mengantarkan kita pada tahap kedewasaan diri yang dengan lapang dada menerima keanekaragaman sebagai sunnatullah. Dengan budaya silatur rahiem, akan menyebar semangat kasih sayang antar sesama, dengan kasih sayang, kesenjangan, kecemburuan dan dengki akan diganti dengan sikap saling pengertian dan toleransi, dengan toleransi akan terbentuk persaudaraan yang kokoh, dan dengan persaudaraan yang kokoh akan terwujud kehidupan yang damai. Ketiga, Ath'imut tho'am (Memberi makan orang yang lapar) Dalam alqur'an amal yang paling sering disebut adalah memberi makan orang-orang miskin, salah satunya dalam surat al maa'uun "Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin" Dalam sebuah riwayat disampaikan "Tuhan bertanya kepada Jibril as, Wahai Jibril seandainya Aku menciptakan anda sebagai seorang manusia, bagaimana cara anda beribadah kepadaku ? Jibril menjawab, aku akan menyembahmu dengan tiga cara. Pertama Aku akan beri minum orang yang kehausan, kedua aku akan menutupi kesalahan orang lain ketimbang aku membicarakannya, dan ketiga aku akan menolong meraka yang miskin". Riwayat diatas menegaskan bahwa syarat seseorang untuk dapat taqorrub dengan Allah adalah bila sebelumnya ia telah dekat dengan saudara saudaranya yang kekurangan. Dengan kata lain bila Allah menyuruh manusia mendekatkan diri kepadanya dengan mengisi masjid-masjid yang sunyi, maka Allah juga menyuruh manusia mendekatkan diri kepadanya dengan mengisi perut-perut yang kosong. Selama ini ibadah kita hanya terbatas pada ibadah ritual saja, belum bergerak pada ibadah sosial, padahal posisi keduanya adalah sama. Betapa banyak diantara kita yang disibukkan dengan urusan ibadah mahdhah tetapi mengabaikan kemiskinan, kebodohan, kelaparan dan kesengsaraan hidup yang diderita saudara saudara mereka. Tidak sedikit diantara kita dengan khusu' bertahajjud berjam-jam diatas sajadah, sementara disekitar kita tak terhitung tubuh tubuh layu kelaparan dan kurang gizi, Betapa mudahnya jutaan rupiah kita habiskan untuk umroh, disaat ribuan saudara kita masih sangat sulit mencari sesuap nasi, ribuan anak putus sekolah karena tidak ada biaya, ribuan orang sakit menggelepar menunggu maut karena tak dapat membayar biaya berobat dan bahkan disaat ribuan saudara kita terpaksa melacurkan diri, atau bahkan menjual iman dan keyakinannya demi sesuap nasi untuk mempertahankan hidup. Padahal Rasul saw sangat tegas mengatakan "barang siapa diantara kaum muslimin yang tidak memikirkan atau memperhatikan nasib kaum muslimin yang lain, maka mereka bukan termasuk golongan umat ku". Dalam riwayat lain ditegaskan "Tidak beriman seseorang yang tidur dalam keadaan kenyang sementara ia tahu bahwa ada tetangganya yang kelaparan". Keempat, Shollu billayli wannasu niyam (Solat malam ketika orang lain terlelap) Diantara ciri orang taqwa adalah mereka yang sedikit tidur diwaktu malam dan menghabiskan malam-malamnya dengan bersujud, mengadukan nasibnya, bermohon, bermunajat, bertasbih, beristighfar dan mendekatkan diri kepada Allah swt dalam sholat guna menperoleh maqom mahmuda. Dalam sebuah riwayat disebutkan "Setiap malam Allah swt turun ke langit dunia dan berseru : Adakah hambaku yang minta ampun malam ini ?, Adakah hambaku yang bertaubat malam ini ?, Adakah hamba yang minta dipenuhi hajatnya malam ini ? Sehingga Aku penuhi semua permintaannya". Sholat dalam Islam bukan sekedar pengistrihatan mental dari segala kesibukan bendawi, tetapi lebih merupakan sarana efektif bagi upaya komonikasi, secara vis a vis antara makhluk dan sang kholik. Sholat adalah saat yang paling tepat untuh mencurahkan segalanya kepada Allah. Sebab menurut Hadits yang diriwayatkan Muslim "paling dekatnya hamba dengan kholiknya adalah ketika ia sujud (di waktu Sholat)" Sholat adalah momentum yang amat strategis dimana relasi seorang mu'min diperbaharui dengan saluran rahasia yang menjadi sumber wujud dirinya, ketika seseorang memasuki kosmologi sholat sesungguhnya yang bersangkutan sedang berpisah dengan alam relatif dan fana menuju ke alam absolut dan baqa', ketika seseorang mengangkat tangan (takbir) dalam sholat, saat itu sesungguhnya yang bersangkutan tengah meninggalkan planet ini, dia sedang mi'raj menghadap Allah Swt di sidratul muntaha, sebagaimana ditegaskan oleh sebuah hadits bahwa "Assolatu Mi'rajul Mu'minin " Dalam sebuah riwayat disampaikan "Barang siapa yang memelihara sholat malam, Allah akan memelihara dia dari lima hal. 1 ) dihilangkan kesusahan dunianya, 2 ) diselamatkan dari siksa kubur. 3 ) seluruh amal kebaikannya akan diterima 4 ) Melewati siratol mustaqimn laksana kilat dan 5) akan dimasukkan ke sorga tanpa proses hisab". Bila empat hal diatas kita lakukan secara konsisten, maka tiket gratis menuju sorga akan kita kantongi, insyaAllah. Wallahu a'lam. Semoga bermanfaat buat qt semua terutamanya buat ane yang imannya seperti karet. Salam ukhuwaht fillah

<<BACK